Melampaui Kata ‘Tidak Bisa’
Kita semua pernah mendengarnya—bisikan, ucapan, atau bahkan pernyataan terbuka: “Kamu tidak bisa.” Entah itu tentang karier, hubungan, mimpi, atau sekadar sebuah ide sederhana. Tapi tahukah Anda bahwa aksi untuk melakukan justru apa yang disebut “tidak mungkin” itu bukan hanya sekadar pembangkangan? Itu adalah sebuah pernyataan kebebasan eksistensial yang terdalam.
Ketika seseorang memutuskan untuk melanjutkan langkah meski dunia berkata “tidak bisa”, ia sedang melakukan lebih dari sekadar menyelesaikan tugas. Ia sedang menciptakan makna. Ia menjawab pertanyaan mendasar, “Untuk apa semua ini?” dengan aksi nyata—menjadikan tantangan sebagai panggung untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Seperti nasihat Murtadha Muthahhari yang menyebut hal ini sebagai hurriyah haqiqiyyah.
Dimana manusia membutuhkan kebebasan sejati yang bukan kebebasan liar tanpa batas, tetapi ketahanan iman untuk mengarahkan jiwa melawan determinasi eksternal—termasuk opini masyarakat, tekanan sosial, dan bahkan rasa takut akan kegagalan. Dengan kata lain, ketika Anda bertindak melawan arus “ketidakmungkinan” yang ditetapkan orang, Anda sedang melatih jiwa untuk hanya tunduk kepada Allah, bukan kepada batasan yang diciptakan manusia.
Teori self-determination dalam psikologi modern telah mengkonfirmasi hal ini. Dorongan untuk merasa otonom dan kompeten adalah kebutuhan psikologis dasar. Saat kita mengambil kendali atas narasi “kamu tidak bisa” dan mengubahnya menjadi “saya bisa mencoba”, kita memicu sirkuit reward di otak. Kita mengalami apa yang disebut cognitive reframing—kekuatan untuk membingkai ulang hambatan sebagai tantangan yang bisa dipelajari, bukan sebagai tembok penghalang yang final.
Inilah mengapa kisah-kisah inspiratif—dari ilmuwan yang ditolak berkali-kali hingga atlet yang dianggap “terlalu tua”—begitu menyentuh. Mereka adalah bukti nyata bahwa batasan sering kali adalah konstruksi mental kolektif. Dan ketika satu orang berani mendobraknya, ia tidak hanya membebaskan dirinya, tetapi juga memberi izin psikologis bagi orang lain untuk mempertanyakan: “Batasan apa dalam hidup saya yang sebenarnya juga ilusi?”
Jadi, Apa Artinya Bagi Kita Sehari-hari?
- Dengarkan, lalu Nilai Kembali. Ketika mendengar kata “tidak bisa”, jadikan itu sebagai data, bukan kebenaran. Tanya: Apakah ini batasan nyata (hukum fisika, etika) atau batasan persepsi (rasa takut, kebiasaan, asumsi)?
- Ukur dengan Visi Anda Sendiri. Bandingkan ucapan itu dengan visi dan nilai hidup Anda. Apakah Anda akan membiarkan suara luar menentukan jalan Anda?
- Mulai dengan Pembingkaian Ulang. Ubah “Saya tidak bisa melakukan X” menjadi “Saya belum tahu cara melakukan X” atau “Saya perlu menemukan cara lain untuk mencapai inti dari X”.
Maka kesenangan terbesar bukanlah sekadar “membuktikan orang lain salah”. Itu hanyalah bonus eksternal. Kepuasan sejati datang dari perjumpaan dengan versi diri Anda yang lebih kuat dan lebih merdeka. Yaitu kebebasan untuk menjadi arsitek makna hidup kita sendiri, satu tindakan pemberani pada satu waktu.
Melampaui Batas Pemikiran dengan Iman
Pernahkah Anda merasa ada dorongan yang begitu kuat untuk membuktikan bahwa Anda bisa, terutama ketika seseorang meragukannya? .. Itulah self-efficacy yang merupakan keyakinan mendalam pada kemampuan diri sebagai mesin terkuat di balik kesuksesan. Saat kita mendengar ucapan “kamu tidak bisa”, respons tidak hanya terjadi di level mental. Sistem limbik—pusat emosi otak—dan korteks prefrontal—pusat perencanaan—justru menyala, mengaktifkan approach motivation. Artinya, secara harfiah, otak kita terancam oleh keraguan orang lain dan merespons dengan pola pikir “menantang”, mendorong kita untuk mengambil tindakan pembuktian.
Namun, dalam pandangan Islam, dorongan ini tidak berhenti pada psikologi semata. Ia mendapatkan makna yang lebih dalam. Ini adalah bentuk spiritually centered striving atau jihad an-nafs yang sesungguhnya. Al-Qur’an menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardh (QS Al-Baqarah: 30), sebuah peran kreatif sebagai wakil Tuhan di bumi. Maka, setiap usaha untuk melampaui batasan yang semu—setiap keberanian membuktikan bahwa “tidak bisa” itu bisa—adalah pelaksanaan dari mandat ilahi tersebut. Kita sedang memakmurkan bumi dengan cara kita, menggunakan potensi yang Tuhan titipkan.
Sebutlah wanita karir paruh baya yang juga adalah ibu dari anak-anak yang beranjak dewasa adalah wajah dari pertemuan sains dan spiritual ini. Kepercayaan dirinya memimpin kepercayaan pimpinan dari institusi besar ini bukanlah semata ambisi karir. Itu adalah aktualisasi potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya sebagai seorang profesional yang dengan sadar memilih untuk mengelola tim, menyusun strategi, dan tetap hadir untuk anak-anaknya dengan setiap keputusan sulitnya. Kerja kerasnya adalah cara mensyukuri akal, keteguhan, dan kecerdasan emosional yang telah Allah tanamkan padanya.
Perjuangannya adalah enerji pembuktian diri yang bersumber dari otak, disalurkan oleh hati yang terhubung dengan nilai transendental. Hasilnya bukan lagi sekadar kesuksesan duniawi, tetapi kepuasan eksistensial—rasa bahwa kita telah hidup sesuai dengan desain terbaik yang Tuhan tetapkan untuk kapasitas kita. Anda dilahirkan dengan potensi untuk berkontribusi dan untuk mengubah “tidak bisa” menjadi “kisah baru”. Jadikan setiap pencapaian sebagai ucapan syukur, dan setiap tantangan sebagai medan untuk membuktikan bahwa kita adalah khalifah yang bertanggung jawab atas karunia-Nya.
Menjadi Penulis Ayat Kauniyah
Setiap terobosan besar dalam sejarah dimulai dengan satu pertanyaan sederhana: “Mengapa tidak?” Pertanyaan ini bukan sekadar keraguan, tetapi sebuah ijtihad kontemporer—pengerahan nalar untuk membaca realitas dan menemukan jalan baru. Dalam kosakata spiritual Islam, ini adalah bagian dari misi manusia sebagai pembaca dan penulis ayat-ayat kauniyah Allah.
Allah berfirman dalam QS Ali ‘Imran: 190-191, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” Ayat ini bukan hanya ajakan untuk mengagumi alam. Ini adalah undangan untuk berdialog aktif dengan semesta. Setiap pola di daun, setiap hukum fisika, setiap interaksi sosial adalah “ayat” yang menunggu untuk dibaca, dipahami, dan direspons dengan kreativitas. Maka, ketika seorang ilmuwan menemukan formula baru, seorang seniman melahirkan gaya ekspresi yang belum ada, atau seorang aktivis merintis model pemberdayaan masyarakat yang inklusif—mereka sedang menulis ulang dan melanjutkan ayat-ayat kauniyah melalui karya manusiawi mereka.
Pemikir Islam seperti Seyyed Hossein Nasr menyebutnya sebagai knowledge as worship (ilmu sebagai ibadah). Dalam paradigma ini, eksplorasi pengetahuan dan inovasi bukanlah pemberontakan terhadap kodrat, melainkan partisipasi aktif dalam proyek ilahi al-khalq al-jadid—penciptaan yang terus-menerus. Tuhan menciptakan biji kopi, manusia mencipta ragam cara seduh dan seni latte. Tuhan menciptakan hukum aerodinamika, manusia mencipta pesawat. Kita adalah mitra kreatif dalam memakmurkan bumi, dengan akal sebagai anugerah utama.
Indonesia memiliki banyak penulis ayat kauniyahnya sendiri. Lihatlah B.J. Habibie. Di tengah anggapan bahwa bangsa ini hanya bisa menjadi konsumen teknologi, beliau membuktikan bahwa anak negeri bisa menguasai ilmu penerbangan yang paling kompleks. Keyakinan Islamnya tidak menghalangi nalar saintifiknya, justru menjadi fondasi etos yang mendorongnya untuk memecahkan belenggu ketergantungan intelektual. Karyanya adalah ijtihad teknologi: membaca “ayat-ayat” material logam dan fisika udara, lalu menulis “ayat” baru berupa pesawat buatan anak bangsa. Inilah wujud nyata dari iman yang membebaskan dan ilmu yang memuliakan.
Namun, jiwa inovator kauniyah tidak hanya hidup di laboratorium. Ia hadir dalam seorang perawat yang merancang manajemen pengelolaan sumberdaya manusia dalam berbagai aksi sosial. Sebagai seorang peneliti yang mengembangkan penerapan teknologi untuk petani dengan kearifan lokalnya. Mereka semua adalah mujtahid di bidangnya yang menerjemahkan tanda-tanda Tuhan di sekitar mereka untuk menjadi solusi yang membawa kemaslahatan.
Mari hadapi semesta ini sebagai kitab ilmu yang terbuka. Setiap halamannya berisi pertanyaan, teka-teki, dan peluang. Seorang Ahyudin tokoh filantropi dunia yang telah menolong jutaan orang dengan Aksi Cepat Tanggapnya akhirnya pun memilih untuk menjadi penulis yang aktif berkontribusi pada narasi besar janji Tuhan-Nya dengan dasar ..“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d: 11). Sehebat apapun tinta emas amal dan inovasi yang pernah beliau toreh, tidak menghentikan beliau mengukir ayat kauniyah untuk membebaskan umat manusia dari kemiskinan bahkan menghancurkan sistem mafia kebatilan dunia dengan keberaniannya.
Menemukan Kemudahan di Balik Dinding Keraguan
Kita semua pernah mendengar suara itu. Bukan suara dari luar, melainkan bisikan dalam kepala sendiri yang berujar, “Kamu tidak cukup baik,” “Ini terlalu sulit,” atau “Nanti saja kalau sudah siap.” Dalam bahasa psikologi, ini disebut self-doubt. Dalam khazanah Islam, ia dikenal dengan nama waswas—bisikan halus dari setan atau ego yang bertujuan melumpuhkan potensi dan melemahkan tekad.
Waswas bukan sekadar rasa tidak percaya diri biasa. Ia adalah virus mental yang menyamar sebagai kewaspadaan. Ia membuat kita mengira kita sedang bersikap realistis, padahal sebenarnya kita sedang membangun penjara bagi impian sendiri. Saat waswas berkuasa, ide-ide besar mati sebelum diucapkan, peluang dijauhi sebelum dicoba, dan bakat terpendam dalam kubur keraguan.
Namun, Al-Qur’an menawarkan pola pikir yang sangat berbeda. Dalam QS Al-Insyirah, Allah berfirman: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Ini adalah peta spiritual yang mengungkap bahwa setiap kesulitan—termasuk kesulitan psikologis seperti keraguan diri—telah dipasangkan Allah secara matematis dengan sebuah kemudahan yang setara.
Maka, melampaui batas diri sendiri sebenarnya adalah aksi untuk menafsirkan ayat ini dalam hidup. Ketika Anda ragu memulai memimpin visi besar ini, kemudahan yang tersembunyi bisa jadi adalah jaringan support system yang belum Anda sadari. Tantangannya adalah menemukan pasangan “kemudahan” itu di balik topeng “kesulitan” yang berupa keraguan.
Maka percayalah hidup adalah proses yang terus-menerus melahirkan kemudahan dari rahim kesulitan. Setiap kali kita berhasil mendorong diri melampaui suara “tidak bisa,” kita bukan hanya mencapai sebuah tujuan duniawi. Kita sedang membuktikan kebenaran ayat kauniyah, menjadi saksi hidup bahwa janji Allah itu nyata: bahwa di balik setiap dinding keraguan, selalu ada pintu kemudahan yang menunggu untuk ditemukan.Tugas anda hanyalah membiarkan langkahmu membuka pintu bagi kemudahan yang Allah telah sediakan sebagai pasangannya.
Saat Anda Bangkit, Bangsa pun Ikut Kuat
Ada sebuah kekuatan yang tak terlihat, namun lebih nyata dari hukum apa pun: ketika satu orang berani membebaskan dirinya dari belenggu “tidak bisa”, ia tak hanya merobohkan penjara pribadinya, tetapi juga melemahkan tembok psikologis yang mengurung ribuan orang di sekitarnya. Perjuangan melampaui batas kerap kita lihat sebagai perjalanan soliter. Padahal, di balik setiap pencapaian individu, tersimpan sebuah benih inspirasi kolektif.
Setiap kali seorang wanita karir ini di kantornya membuktikan bahwa wanita paruh baya bisa memimpin visi besar sambil mengasuh remaja, ia tak hanya memimpin tugas besar, namun mengubah stereotip. Setiap kali seorang Habibie muda dulu menantang anggapan bahwa orang Indonesia tidak bisa membuat pesawat, ia tidak sekadar menciptakan teknologi—ia membangun kepercayaan nasional.
Inilah dimensi sosial dari kebebasan sejati. Dalam Islam, konsep ini bersinar dalam frasa rahmatan lil ‘alamin—menjadi berkah bagi seluruh alam. Rahmat itu tidak selalu berupa bantuan materi, tetapi bisa berupa keteladanan yang hidup dan menular. Ketika Anda berani hidup otentik, menjalani potensi tertinggi Anda dengan integritas, Anda menjadi “kasih yang bergerak”. Anda menunjukkan melalui hidup, bukan sekadar kata-kata, bahwa jalan lain itu ada, dan jalan itu bisa dilalui.
Efeknya adalah penciptaan jejak psikologis kolektif. Seperti pendaki pertama yang meninggalkan tali dan pijakan di tebing terjal, pelopor membuka jalan yang memudahkan generasi setelahnya. Mereka membuktikan bahwa “mustahil” hanyalah sebuah narasi, bukan takdir. Narasi bisa ditulis ulang. Dan setiap kali satu orang menulis ulang kisahnya dari “korban keadaan” menjadi “pengubah keadaan”, ia memberikan izin psikologis bagi orang lain untuk melakukan hal serupa.
Saat Anda menyalakan lilin kepercayaan diri Anda, Anda tidak kehilangan cahaya—Anda justru membantu orang di sekitar melihat jalan mereka sendiri. Maka, pertanyaan reflektif terbesar bukan lagi, “Apa yang dunia katakan tentang saya?” melainkan, “Dengan membebaskan potensi saya, jejak inspirasi apa yang bisa saya tinggalkan untuk generasi setelah saya?”
Perjuangan Anda melampaui keraguan, mengatasi kata “tidak bisa”, dan menciptakan jalan baru, pada akhirnya bukan hanya tentang Anda. Itu adalah kontribusi aktif dalam membangun ekosistem masyarakat yang lebih percaya, lebih berani, dan lebih penuh harapan. Anda sedang menulis ulang narasi tidak hanya untuk hidup Anda, tetapi juga untuk lanskap kemungkinan di komunitas Anda.
Saat Manusia Menjadi Dirinya yang Sejati
Kita semua pernah merasakannya—sensasi yang dalam dan membahagiakan ketika berhasil melakukan sesuatu yang dulu terasa mustahil. Rasanya bukan hanya sekadar kemenangan biasa. Seolah ada senar di dalam jiwa yang bergetar harmoni, mengumumkan pada seluruh keberadaan: “Inilah aku, yang seharusnya.” Kepuasan itu bukan euforia sesaat atau kesombongan. Ia adalah resonansi spiritual—gema dari fakta terdalam bahwa manusia memang diciptakan dengan cetakan terbaik (fi ahsani taqwim).
Setiap kali kita melampaui kata “tidak bisa”, kita sedang menyelaraskan diri dengan desain ilahi bahwa manusia telah diciptakan Allah dengan sebaik-baik bentuk secara lahiriah dengan muara maknawiyah yang mempertemukan tiga sungai kesadaran:
1. Kesadaran Eksistensi (Ontologis): “Saya Ada untuk Sesuatu.”
Ini adalah kesadaran bahwa hidup kita bukanlah kebetulan. Seperti yang diajarkan Viktor Frankl, kita adalah pencari makna. Ketika kita memilih untuk bertindak melawan arus ketidakmungkinan, kita sedang menjawab panggilan eksistensial paling mendasar: kita sedang mengukir makna ke dalam realitas, menyatakan bahwa hidup kita memiliki bobot, tujuan, dan agensi.
2. Kedaulatan Diri (Psikologis): “Saya Memiliki Kendali.”
Ini adalah wilayah otonomi dan ketahanan mental. Teori self-determination menunjukkan bahwa kebutuhan akan otonomi adalah fondasi kesehatan psikis. Ketika kita menolak dikendalikan oleh narasi batasan dari luar, dan mengambil alih kemudi keyakinan diri, kita sedang membangun ketahanan yang bersumber dari dalam. Kita menjadi benteng yang tak mudah runtuh oleh opini atau keadaan.
3. Pusat Kreatif (Spiritual): “Saya Terhubung dengan Sumber Tanpa Batas.”
Inilah dimensi pemersatu dan penggerak utama. Dalam perspektif tauhid, Tuhan adalah Al-Khaliq (Maha Pencipta) dan manusia adalah Khalifah (wakil kreator-Nya). Potensi kreatif, daya nalar, dan tekad baja kita adalah amanah ilahi. Maka, melampaui batas adalah wujud syukur atas amanah itu. Ini adalah ibadah kreatif, di mana kerja keras dan inovasi kita menjadi cermin dari sifat-Nya Yang Tak Terbatas. Keyakinan tauhid yang mantap berkata: “Batasan bukanlah akhir, karena sumber kekuatanku adalah Yang Maha Tak Terbatas.”
Pertemuan ketiga dimensi inilah yang melahirkan kekuatan transformatif melalui neuroplastisitas otak yang memungkinkan kita belajar dan tumbuh hampir tanpa batas sepanjang hayat. Percayalah kita diciptakan dalam bentuk terbaik (QS At-Tin: 4). Kemudian diberikan alat untuk “menundukkan” apa yang ada di bumi (QS Al-Jatsiyah: 13). Batasan sejati bukanlah pada kemampuan, melainkan pada keyakinan.” Keyakinan bahwa kita terlalu tua, terlalu biasa, tidak berbakat, atau terkungkung keadaan, adalah penjara yang kita bangun sendiri di dalam pikiran.
Lalu, bagaimana membongkar penjara itu? .. Maka mulailah dengan mengganti narasi keyakinan. Ubah “Saya tidak bisa” menjadi “Saya sedang belajar cara untuk bisa.” Percayalah bahwa dorongan untuk melampaui diri bukanlah kesombongan, melainkan panggilan jiwa untuk kembali kepada fitrah penciptaan kita yang sempurna dan penuh potensi. Jadi, batasan apa dalam keyakinan Anda yang siap Anda langkahi hari ini?


Tinggalkan Balasan