Hasil penelitian kolaboratif dengan riset tanhana strategik mengungkap kerentanan yang mengkhawatirkan, sekaligus menawarkan peta jalan menuju kedaulatan data nasional.
Bayangkan peta digital Indonesia yang kita lihat di Google Maps tiba-tiba berubah. Garis batas wilayah di laut sedikit bergeser. Blok-blok tambang resmi menghilang dari database pemerintah. Ini bukan skenario film fiksi ilmiah, tetapi kerentanan nyata yang dihadapi negara kita di era digital.
Sebuah penelitian terbaru yang melibatkan pakar dalam dan luar negeri, menggunakan metode mutakhir—termasuk simulasi peretasan data, analisis citra satelit canggih, dan wawancara mendalam—memberikan gambaran mengkhawatirkan sekaligus harapan untuk memperbaiki keadaan.
Temuan Mencemaskan: Batas Negara hingga Tambang Ilegal Bisa “Dihapus”
- Batas Negara dan Izin Tambang Rentan Hilang atau Dimanipulasi
Simulasi keamanan siber menunjukkan, sistem data geospasial kita saat ini dapat diretas oleh peretas dengan kemampuan menengah dalam waktu kurang dari 4 jam. Data vital seperti batas negara dan Izin Usaha Pertambangan (IUP) adalah yang paling rentan. Artinya, koordinat kedaulatan kita bisa diubah oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. - Tambang Ilegal Tumbuh Subur, Kerugian Triliunan Terabaikan
Melalui analisis big data citra satelit dari Sentinel dan Planet, tim peneliti mendeteksi 412 lokasi tambang ilegal aktif di luar wilayah izin di Kalimantan Timur. Kerugian negara yang ditimbulkan diperkirakan mencapai Rp 18,4 triliun per tahun. Ini membuktikan bahwa pengawasan konvensional di lapangan sudah tidak memadai. - Ketergantungan pada Satelit Asing: Kita “Buta” atas Wilayah Sendiri?
Indonesia masih sangat bergantung pada membeli data citra satelit resolusi tinggi dari perusahaan asing. Ketergantungan ini menciptakan kerawanan strategis. Bagaimana jika akses dibatasi? Laporan dari Carnegie Endowment menyebut fenomena ini sebagai ancaman “kolonialisme data”, di mana negara berkembang hanya menjadi konsumen dan penyedia data mentah, tanpa kendali penuh.
Akar Masalah: Data Terpecah-belah dan Sistem yang Lemah
Wawancara dengan puluhan pejabat mengungkap akar masalahnya:
- Data Masih “Pecah Kongsi”: Data sektoral—kehutanan, pertambangan, pertanahan—masih tersimpan di masing-masing kementerian, sulit disatukan dalam Kebijakan Satu Peta (One Map Policy).
- Anggaran dan Teknologi Terbatas: Kapasitas untuk mengembangkan satelit dan sistem analisis data mandiri masih jauh dari memadai.
Peta Jalan Menuju Kedaulatan Data: Dari Wacana ke Aksi Nyata
Penelitian ini tidak hanya berhenti pada masalah, tetapi juga memberikan rekomendasi konkret yang bisa segera dijalankan:
- Darurat Sistem! (2024-2025)
- Audit Nasional Digital: Lakukan audit menyeluruh terhadap semua data batas wilayah dan IUP menggunakan kecerdasan buatan (AI).
- Pasang “Alarm” Siber: Segera tingkatkan sistem keamanan data center pusat dengan teknologi deteksi intrusi terbaru.
- Cetak Jagoan Data: Latih 500 analis data geospasial andal dari unsur TNI, Polri, dan instansi sipil.
- Bangun Kemandirian (2026-2029)
- Luncurkan “Matahari” Mandiri: Wujudkan peluncuran satelit pengamat bumi buatan dalam negeri berteknologi radar (SAR), yang bisa melihat melalui awan dan malam hari.
- Bentuk Komando Gabungan: Dirikan National Cyber-GEOINT Command, pasukan siber khusus yang bertugas melindungi data spasial strategis.
- Satu Peta Betulan: Selesaikan integrasi total One Map Policy, sehingga semua kementerian bekerja dengan peta dasar yang sama.
- Menjadi Pemimpin Regional (2030-2035)
- Konstelasi Satelit Andalan: Miliki konstelasi 12 satelit pengamat bumi untuk mencakup seluruh wilayah Indonesia dan ASEAN secara real-time.
- Pusat Data ASEAN: Jadikan Indonesia pusat pertukaran dan analisis data geospasial regional.
- Produksi Sensor Mandiri: Kembangkan kemampuan produksi sensor satelit dalam negeri.
Data adalah Kedaulatan Baru
Di era di mana perang bisa terjadi di dunia maya dan perbatasan bisa digeser lewat database, menguasai data geospasial sama dengan mempertahankan kedaulatan. Kerugian triliunan rupiah dari tambang ilegal adalah bukti nyata betapa mahalnya harga yang kita bayar akibat lemahnya penguasaan data.
Rekomendasi dari penelitian kolaboratif ini adalah panggilan untuk bertindak. Butuh komitmen politik yang kuat, anggaran yang memadai, dan kolaborasi erat antara pemerintah, militer, akademisi, dan industri. Masa depan kedaulatan Indonesia tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan laut dan udara, tetapi juga oleh kekuatan data, algoritma, dan keamanan siber.
Sudah waktunya Indonesia tidak hanya menjadi pemain pasif dalam revolusi data, tetapi menjadi penguasa atas data geospasialnya sendiri.


Tinggalkan Balasan