Nomor yang Tak Pernah Diumumkan

Pagi itu ia berangkat seperti biasa.

Kemeja disetrika rapi. Ponsel di saku. Janji bertumpuk di kepala. Ada target yang harus dikejar, rencana yang katanya akan dibereskan “bulan depan”, dan satu pesan untuk orang tuanya yang sejak kemarin ingin ditelepon—nanti saja, pikirnya.

Ia tidak pernah tahu bahwa hari itu adalah hari terakhirnya.

Bukan karena ia sakit parah. Bukan karena ia tua. Ia sedang berada di fase hidup yang oleh banyak orang disebut menanjak. Karier stabil, usia produktif, rencana panjang terbentang rapi. Tapi kematian tidak membaca kalender manusia.

Di jalan, sebuah kejadian singkat mengakhiri segalanya.

Dan tiba-tiba, semua “nanti” berhenti di sana.

Hidup yang Selalu Merasa Punya Waktu

Kisah ini bukan tentang satu orang. Ini tentang banyak dari kita.

Tentang ayah yang menunda meminta maaf pada anaknya karena merasa masih ada esok. Tentang seorang sahabat yang ingin mulai berubah setelah satu proyek selesai. Tentang seorang hamba yang berniat memperbaiki ibadahnya ketika hidup sudah lebih tenang.

Kita hidup seolah-olah kematian adalah nomor urut.

Seolah-olah ia sopan: menunggu usia tua, menunggu semua rencana selesai, menunggu kita benar-benar siap. Padahal, dalam hidup nyata, kematian lebih mirip nomor cabut—keluar tanpa pola, tanpa pengumuman, tanpa kompromi.

Ada yang pergi di usia belasan. Ada yang dipanggil saat baru memulai. Ada pula yang tertatih, tapi justru masih diberi waktu. Tidak ada rumus yang bisa ditebak.

Ketika “Nanti” Ternyata Tidak Pernah Datang

Seorang ibu pernah bercerita, anaknya sering berkata, “Nanti kalau sudah tidak sibuk, aku sering pulang.”

Kesibukan itu tidak pernah selesai.

Yang selesai justru hidupnya.

Di pemakaman, sang ibu tidak menangisi harta yang belum terkumpul atau karier yang belum sempurna. Ia menangisi percakapan yang tak pernah terjadi, pelukan yang ditunda, dan kata-kata baik yang selalu merasa bisa menunggu.

Di titik itu, banyak orang baru sadar: menunda kebaikan bukan keputusan netral. Ia adalah taruhan—dan taruhannya adalah waktu hidup yang tidak kita kuasai.

Hidup Bukan Tentang Panjang, Tapi Tentang Siap

Dalam Islam, hidup tidak diukur dari berapa lama kita bertahan, tetapi dari apa yang kita lakukan selama diberi kesempatan.

Banyak orang takut mengingat kematian karena mengira itu akan membuat hidup suram. Padahal bagi orang-orang yang jujur, kesadaran akan kematian justru membuat hidup lebih terang.

Ia membuat seseorang berkata:

  • “Aku tidak akan menunda minta maaf.”
  • “Aku tidak akan menunggu sempurna untuk berbuat baik.”
  • “Aku akan membereskan relasi hari ini.”
  • “Aku akan bertanggung jawab sekarang.”

Bukan karena takut mati.

Tapi karena ingin hidup dengan utuh.

Mereka yang Pergi dengan Tenang

Ada pula kisah lain.

Tentang seorang lelaki sederhana yang tidak terkenal. Hidupnya biasa, pekerjaannya tidak mentereng. Tapi ia dikenal cepat meminta maaf, ringan membantu, dan tidak suka menunda kebaikan.

Ketika ia wafat mendadak, orang-orang terkejut—namun tidak bingung.

Karena hidupnya sudah selesai bahkan sebelum kematian datang.

Ia tidak sempurna. Tapi ia tidak menggantungkan hidup pada janji “nanti”.

Jika Hari Ini Adalah Nomormu

Bayangkan sejenak.

Jika hari ini adalah nomor yang keluar—bukan besok, bukan nanti—apa yang belum sempat kamu luruskan?

Siapa yang perlu kamu hubungi?

Kebaikan apa yang masih kamu tunda?

Pertanyaan ini bukan untuk menakut-nakuti.

Ia untuk membangunkan.

Karena hidup yang sadar akan kefanaan bukan hidup yang ketakutan, melainkan hidup yang tajam, bernilai, dan jujur.

Jika kematian memang nomor cabut, maka hidup terbaik adalah hidup yang tidak menunda menjadi manusia yang benar hari ini.

Dan ketika nomor itu akhirnya keluar—kapan pun itu—kita bisa pergi dengan satu ketenangan sederhana:

Aku tidak menunggu hidup untuk dimulai. Aku sudah menjalaninya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *