Pegunungan sebagai Pasak

Bentuk dan Fungsi Gunung dalam Perspektif Al-Qur’an dan Geologi


Ketika Firman Bertemu Fakta

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, ketika manusia sibuk dengan gedung pencakar langit dan teknologi canggih, gunung-gunung berdiri dengan diamnya. Ia menjadi saksi bisu peradaban yang lahir dan tenggelam di kakinya. Namun, di balik keheningan itu, gunung menyimpan rahasia besar tentang dirinya—rahasia yang baru terkuak setelah berabad-abad manusia menelitinya.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Naba’ ayat 6-7:

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak (autad)?” (QS An-Naba’: 6-7)

Kata autad (jamak dari watad) dalam bahasa Arab berarti pasak atau pancang yang digunakan untuk menambatkan sesuatu, seperti pasak tenda yang menancap kuat ke tanah untuk menjaga tenda tetap kokoh . Penggunaan kata ini bukan tanpa makna. Ia memberikan gambaran yang sangat presisi tentang bentuk dan fungsi gunung—sebuah fakta ilmiah yang baru dipahami manusia melalui penelitian geologi berabad-abad kemudian.


Sejarah Panjang Penemuan Akar Gunung

Paradigma Lama tentang Gunung

Pada zaman dulu, gunung hanya dikenal sebagai blok batu yang menonjol dari permukaan bumi. Definisi sederhana ini dianggap memadai hingga awal abad ke-19. Manusia memandang gunung sebagaimana mereka melihat gunung: tumpukan batu raksasa yang berdiri tegak di atas tanah .

Namun, paradigma ini mulai terusik ketika para ilmuwan melakukan pengukuran gravitasi di pegunungan besar dunia.

Anomali Gravitasi yang Membingungkan Ilmuwan

Pada tahun 1835, seorang ilmuwan Perancis bernama Pierre Bouguer melakukan pengukuran gaya gravitasi di pegunungan Andes, Amerika Selatan. Hasilnya mengejutkan: gaya gravitasi yang tercatat jauh lebih kecil dari yang seharusnya untuk blok batu sebesar pegunungan Andes. Bouguer menyimpulkan bahwa pasti ada bagian gunung yang terbenam jauh di dalam bumi. Atas dasar itu, kelainan gravitasi tersebut harus ditafsirkan ulang .

Pada pertengahan abad ke-19, George Everest, kepala survei geografi India yang namanya diabadikan sebagai nama gunung tertinggi di dunia, menaruh perhatian besar pada fenomena serupa. Pengukuran gravitasinya di Pegunungan Himalaya—gunung tertinggi di muka bumi—juga menunjukkan anomali yang sama di dua tempat berbeda. Namun Everest gagal menafsirkan fenomena ini, dan ia menyebutnya sebagai “Misteri India” (The Indian Mystery) .

Teori Airy: Terobosan yang Menjawab Misteri

Misteri ini akhirnya terjawab pada tahun 1865 oleh George Airy, seorang astronom dan matematikawan Inggris. Airy menyatakan bahwa semua rantai pegunungan di bumi merupakan blok yang mengapung di atas lautan magma—bahan batuan cair di bawah kerak bumi. Ia berargumen bahwa bagian gunung yang berada di bawah permukaan (akar gunung) sebenarnya lebih tebal daripada gunung itu sendiri. Akibatnya, gunung harus “menyelam” ke dalam bahan berdensitas tinggi ini untuk menjaga keseimbangannya .

Teori Airy ini menjadi fondasi bagi pemahaman modern tentang isostasi—konsep keseimbangan hidrostatik kerak bumi.

Konfirmasi Empiris: Van Anglin dan Dutton

Pada tahun 1948, seorang geolog bernama Van Anglin dalam bukunya Geomorfologi (halaman 27) menyatakan dengan tegas: “Saat ini telah diketahui dengan cukup baik bahwa ada suatu akar untuk setiap gunung di bawah kerak bumi” .

Sebelumnya pada tahun 1889, Dutton, seorang geolog Amerika Serikat, telah menggambarkan prinsip keseimbangan hidrostatik bumi. Ia menyatakan bahwa tonjolan bumi (gunung) terbenam ke dalam bumi dengan cara yang sesuai dengan ketinggiannya. Makin tinggi gunung, makin dalam akarnya menghujam .

Teori ini kemudian diperkuat dengan ditemukannya konsep lempeng tektonik pada tahun 1969, yang menjelaskan bahwa gunung-gunung berperan vital dalam menjaga keseimbangan lempeng-lempeng bumi .


Bentuk Gunung—Pasak yang Menghujam

Analogi Pasak dalam Al-Qur’an

Penggunaan kata autad (pasak) dalam Al-Qur’an terbukti sangat akurat secara ilmiah. Sebuah pasak memiliki dua bagian: satu bagian terlihat di permukaan, dan bagian lain yang lebih panjang tertanam di dalam tanah. Fungsinya adalah untuk mengikat apa yang terikat dengannya agar tetap kokoh .

Demikian pula gunung. Penelitian geologi modern membuktikan bahwa gunung memiliki dua bagian: satu bagian menonjol di atas kerak bumi (yang kita lihat sebagai puncak gunung), dan bagian lain yang jauh lebih besar terbenam di bawah tanah, yang disebut sebagai akar gunung (mountain roots). Kedalaman akar ini proporsional dengan ketinggian gunung .

Bukti Geofisika: Pengukuran Anomali Gravitasi

Bukti paling kuat tentang keberadaan akar gunung datang dari pengukuran anomali gravitasi. Studi modern yang dilakukan di berbagai kawasan pegunungan, termasuk di Indonesia, terus mengonfirmasi kebenaran teori Airy. Penelitian terkini di wilayah Sumba, Indonesia, misalnya, menggunakan model isostasi Airy untuk memisahkan anomali regional dan residual dalam pemodelan struktur bawah permukaan tiga dimensi. Hasilnya menunjukkan variasi kontras densitas yang konsisten dengan keberadaan struktur akar gunung hingga kedalaman 15 kilometer .

Para ilmuwan menggunakan data anomali gravitasi dari satelit seperti TOPEX/POSEIDON, GOCE, dan GRACE untuk memetakan struktur bawah permukaan bumi. Metode inversi tiga dimensi memungkinkan mereka memvisualisasikan bagaimana densitas batuan bervariasi dari permukaan hingga ke kedalaman puluhan kilometer. Variasi inilah yang mengonfirmasi keberadaan akar gunung yang menghujam .

Rasio Akar dan Puncak

Dalam geofisika, dikenal prinsip bahwa akar gunung jauh lebih besar daripada bagian yang tampak di permukaan. Jika sebuah gunung memiliki ketinggian h di atas permukaan, maka akarnya akan menghujam sedalam sekitar 5,6h hingga 8h ke dalam mantel bumi, tergantung pada kontras densitas antara kerak dan mantel. Dengan kata lain, bagian gunung yang tidak terlihat bisa 5 hingga 8 kali lebih besar daripada yang terlihat .


Fungsi Gunung—Menstabilkan Bumi

Menjaga Keseimbangan Lempeng

Fungsi utama gunung sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an adalah sebagai pasak yang menstabilkan bumi. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 31:

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (QS Al-Anbiya’: 31)

Ayat ini secara eksplisit menyatakan bahwa gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi. Fakta ini tidak diketahui siapa pun pada masa ketika Al-Qur’an diturunkan. Ia baru terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern .

Mekanisme Isostasi

Menurut prinsip isostasi, kerak bumi terapung di atas lapisan astenosfer yang bersifat plastis (cairan kental). Tanpa mekanisme penyeimbang, kerak bumi akan terus bergerak dan berguncang tak terkendali. Gunung-gunung, dengan akarnya yang menghujam dalam, berperan sebagai pemberat yang menjaga keseimbangan ini .

Webster’s New Twentieth Century Dictionary mendefinisikan isostasi sebagai “kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi” .

Penjelasan Dr. Frank Press

Dr. Frank Press, ahli geologi terkemuka yang pernah menjabat sebagai Presiden Akademi Sains Amerika Serikat dan penulis buku teks geologi Earth, menjelaskan bahwa gunung berbentuk seperti pasak. Permukaan gunung yang menjulang ke atas hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan massa gunung. Bagian terbesarnya—yaitu akar gunung—tertanam jauh di dalam bumi, persis seperti pasak yang menancap .

Fungsi Lebih Luas: Ekologi dan Iklim

Selain fungsi geologisnya, para peneliti juga menemukan bahwa gunung memiliki peran ekologis yang vital. Gunung berfungsi sebagai menara air (water towers) dunia, menyimpan air dalam bentuk salju dan gletser yang kemudian mencair perlahan menyuplai sungai-sungai besar. Gunung juga menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa, serta berperan dalam mengatur pola iklim regional dan global .

Dalam perspektif yang lebih luas, keberadaan gunung memungkinkan terbentuknya berbagai ekosistem dengan ketinggian berbeda, dari hutan hujan tropis di kaki gunung hingga padang salju abadi di puncaknya. Variasi ketinggian ini menciptakan gradien suhu dan kelembaban yang mendukung biodiversitas tinggi .


Koreksi Penting—Gunung dan Gempa Bumi

Membedakan Guncangan dan Gempa

Salah satu poin penting yang perlu diluruskan adalah perbedaan antara fungsi gunung mencegah guncangan (tamīda) dan anggapan bahwa gunung mencegah gempa bumi (earthquake). Penelitian hadis dan sains yang dilakukan di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau menegaskan perbedaan ini .

Dalam Al-Qur’an maupun hadis, tidak pernah dinyatakan bahwa fungsi gunung adalah untuk mencegah gempa bumi. Yang dinyatakan adalah gunung mencegah bumi berguncang (an tamida bikum). Guncangan di sini merujuk pada gerakan osilasi periodik yang dapat mengganggu keseimbangan bumi, bukan pada gempa tektonik yang disebabkan oleh pergerakan tiba-tiba lempeng bumi .

Gempa bumi sendiri terjadi justru karena pergerakan lempeng tektonik yang saling bertumbukan, bergesekan, atau menunjam. Dan di zona tumbukan inilah justru pegunungan terbentuk. Jadi, gunung adalah produk dari aktivitas tektonik yang sama yang menyebabkan gempa, sekaligus berperan sebagai stabilisator jangka panjang bagi kerak bumi .

Gunung Bergerak: Antara Diam dan Dinamis

Surah An-Naml ayat 88 memberikan informasi mengejutkan lainnya:

“Engkau akan melihat gunung-gunung yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan.” (QS An-Naml: 88)

Syeikh Mutawalli as-Sya’rawi dalam kitab Mu’jizatul Qur’an menyoroti penggunaan kata tahsabuha (kamu sangka). Beliau menegaskan bahwa Allah sedang berbicara tentang keterbatasan indra manusia yang menyangka gunung itu diam, padahal itu hanyalah persepsi visual. Hakikatnya, gunung itu bergerak .

Tafsir Ilmi Kementerian Agama RI mengonfirmasi pandangan ini dengan data empiris. Teknologi satelit GPS (Global Positioning System) membuktikan bahwa gunung-gunung memang bergeser. Pergerakannya mungkin hanya beberapa milimeter atau sentimeter per tahun—sangat halus hingga mata telanjang tidak bisa menangkapnya—persis seperti penjelasan as-Sya’rawi tentang keterbatasan pandangan manusia .

As-Sya’rawi memberikan analogi yang menarik: gunung bergerak bukan karena kakinya sendiri, tetapi karena “kendaraan” yang ditumpanginya bergerak. Kendaraan itu adalah bumi yang berotasi dan lempeng-lempeng tektonik yang terus bergerak. Gunung adalah penumpang yang pasif, tetapi justru dalam kepasifannya itulah ia menjalankan fungsi sebagai pasak penyeimbang .


Mukjizat Ilmiah dalam Perspektif

Pengetahuan yang Melampaui Zamannya

Fakta tentang bentuk dan fungsi gunung sebagai pasak baru diketahui manusia pada pertengahan abad ke-19 hingga abad ke-20. Pierre Bouguer, George Everest, George Airy, dan para ilmuwan setelahnya merintis jalan menuju pemahaman ini melalui pengukuran yang cermat dan deduksi ilmiah .

Sementara itu, Al-Qur’an telah menyampaikan fakta ini sejak 14 abad yang lalu, di saat tidak ada seorang pun yang memiliki peralatan untuk mengukur anomali gravitasi atau membayangkan bahwa gunung memiliki akar yang menghujam. Bahkan konsep bahwa bumi itu bulat dan memiliki lapisan-lapisan masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan saat itu .

Presisi Linguistik

Ketepatan Al-Qur’an tidak hanya pada konten ilmiahnya, tetapi juga pada pilihan katanya. Kata rawasi (gunung yang kokoh) dan autad (pasak) dipilih dengan presisi tinggi untuk menggambarkan fungsi gunung. Sebagaimana dijelaskan dalam ensiklopedia sains Al-Qur’an, penggunaan kata alqaa (menancapkan) menunjukkan adanya proses pemindahan materi pembentuk gunung, baik dari dasar bumi ke permukaan (seperti gunung api) maupun dari endapan di permukaan yang kemudian terangkat (seperti gunung lipatan) .

Kesaksian Ilmuwan

Ketika para ilmuwan geologi modern diperlihatkan ayat-ayat Al-Qur’an tentang gunung, banyak dari mereka yang takjub. Seorang profesor geologi dari Amerika Serikat, ketika diperlihatkan ayat-ayat tentang gunung sebagai pasak, mengakui bahwa informasi ini mustahil diketahui oleh manusia biasa 1.400 tahun lalu. Ia menegaskan bahwa ini adalah bukti bahwa Al-Qur’an berasal dari Tuhan .


Merenungkan Tanda-Tanda Kebesaran Allah

Dari uraian di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan penting:

Pertama, Al-Qur’an telah menjelaskan bentuk dan fungsi gunung sebagai pasak jauh sebelum ilmu pengetahuan modern menemukannya. Penggunaan kata autad terbukti sangat akurat, menggambarkan gunung yang memiliki akar menghujam jauh ke dalam bumi sebagaimana pasak yang menancap kuat .

Kedua, penemuan ilmiah tentang anomali gravitasi, teori isostasi, dan akar gunung merupakan konfirmasi atas kebenaran firman Allah. Para ilmuwan dari Bouguer hingga Airy, dari Van Anglin hingga Dutton, telah membuka tabir misteri yang selama ribuan tahun tersembunyi .

Ketiga, pemahaman tentang fungsi gunung sebagai penstabil bumi harus dipahami secara proporsional. Gunung mencegah bumi dari guncangan yang dapat mengganggu keseimbangan, tetapi tidak berarti mencegah gempa bumi yang merupakan konsekuensi alami dari dinamika lempeng tektonik .

Keempat, gunung bukanlah benda mati yang statis. Ia bergerak bersama lempeng yang ditumpanginya, namun pergerakannya yang sangat lambat membuat manusia tidak menyadarinya—sebuah fakta yang juga diisyaratkan Al-Qur’an .

Allah SWT berfirman:

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS Al-Mulk: 14)

Gunung-gunung dengan segala keagungan dan misterinya adalah salah satu ayat Allah yang terbentang di muka bumi. Ia berdiri kokoh sebagai saksi kebesaran Penciptanya, sekaligus sebagai bukti bahwa Al-Qur’an benar-benar firman Tuhan yang Maha Mengetahui. Di balik diamnya gunung, tersimpan ilmu yang tak terhingga bagi mereka yang mau berpikir dan merenung.

Wallahu a’lam bisshawab.