Ketika Kepentingan Negara Dibajak oleh Segelintir Aktor

Teori Elit Capture

Dalam ilmu politik dan ekonomi kelembagaan, elite capture adalah kondisi ketika sumber daya, kebijakan, institusi, dan kekuasaan publik yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat justru dikendalikan oleh kelompok kecil yang memiliki akses terhadap pusat pengambilan keputusan. Mereka tidak selalu berada di pemerintahan. Sebaliknya, mereka sering beroperasi melalui jaringan yang menghubungkan birokrasi, pengusaha, partai politik, media, lembaga keuangan, organisasi sosial, bahkan kelompok informal yang memiliki kemampuan memengaruhi arah negara.

Elite capture bukan sekadar korupsi. Korupsi adalah penyalahgunaan jabatan untuk keuntungan pribadi. Elite capture jauh lebih besar karena yang dibajak bukan hanya uang negara, melainkan seluruh mekanisme negara. Aturan dibuat agar menguntungkan kelompok tertentu, regulasi disusun untuk menciptakan monopoli, proyek strategis diarahkan kepada jaringan yang sama, dan kebijakan publik dirancang untuk mempertahankan dominasi kekuasaan dalam jangka panjang.

Fenomena ini telah menjadi perhatian para ilmuwan politik seperti Mancur Olson yang menjelaskan bagaimana kelompok-kelompok kepentingan yang terorganisir cenderung menguasai manfaat ekonomi negara lebih efektif dibanding masyarakat luas yang tersebar. Sementara itu, Daron Acemoglu dan James A. Robinson menggambarkan bagaimana institusi ekstraktif memungkinkan kelompok elit menyedot nilai ekonomi dari masyarakat tanpa menciptakan kemakmuran yang merata.

Dalam praktiknya, elite capture memiliki beberapa tahapan. Tahap pertama adalah penguasaan akses informasi. Kelompok elit mengetahui lebih dahulu proyek, konsesi, perubahan regulasi, atau peluang ekonomi yang akan muncul. Tahap kedua adalah penguasaan proses pengambilan keputusan. Mereka menempatkan orang-orang yang loyal pada posisi strategis sehingga kebijakan yang lahir selaras dengan kepentingan jaringan. Tahap ketiga adalah penguasaan narasi. Media, lembaga survei, influencer, akademisi, maupun organisasi masyarakat digunakan untuk membentuk persepsi bahwa kepentingan kelompok tersebut identik dengan kepentingan nasional. Pada tahap akhir, masyarakat tidak lagi mampu membedakan mana agenda negara dan mana agenda kelompok.

Di negara-negara berkembang, elite capture sering muncul dalam pengelolaan sumber daya alam. Tambang, hutan, energi, pelabuhan, infrastruktur, hingga proyek pangan menjadi arena perebutan rente ekonomi. Negara menyediakan legitimasi, sementara kelompok tertentu memperoleh keuntungan terbesar. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi tetap terjadi, tetapi distribusi manfaatnya terkonsentrasi pada lingkaran sempit.

Dalam perspektif geopolitik, elite capture tidak selalu dilakukan oleh aktor domestik. Kekuatan asing juga dapat memanfaatkan elit lokal sebagai perpanjangan tangan kepentingannya. Sejarah menunjukkan banyak negara kaya sumber daya yang secara formal merdeka, tetapi kebijakan strategisnya dikendalikan oleh kepentingan eksternal melalui jaringan bisnis, utang, teknologi, atau pengaruh politik. Dalam kondisi demikian, negara kehilangan otonomi strategis meskipun simbol-simbol kedaulatan tetap berdiri.

Yang lebih kompleks adalah munculnya fenomena state capture. Jika elite capture masih berupa pembajakan sebagian kebijakan, state capture terjadi ketika hampir seluruh instrumen negara telah berada di bawah pengaruh kelompok tertentu. Hukum, aparat, regulator, media, dan sumber daya fiskal bergerak mengikuti kepentingan jaringan tersebut. Negara secara formal masih ada, tetapi fungsi negara sebagai pelindung kepentingan umum telah melemah.

Ciri-ciri elite capture dapat dikenali melalui beberapa gejala. Pertama, adanya konsentrasi proyek dan konsesi pada kelompok yang sama. Kedua, pergantian pemerintahan tidak mengubah aktor ekonomi dominan. Ketiga, regulasi sering berubah tetapi selalu menguntungkan pihak tertentu. Keempat, kompetisi pasar melemah karena akses ditentukan oleh kedekatan politik, bukan kemampuan. Kelima, kritik terhadap kelompok dominan sering direspons melalui tekanan ekonomi, hukum, atau kampanye delegitimasi.

Namun tidak semua konsolidasi kekuatan ekonomi dapat disebut elite capture. Negara yang sedang membangun sering membutuhkan aktor-aktor besar untuk mempercepat industrialisasi, pembangunan infrastruktur, atau transformasi ekonomi. Perbedaannya terletak pada akuntabilitas. Jika negara tetap menjadi pengendali utama dan manfaatnya tersebar luas kepada masyarakat, maka yang terjadi adalah pembangunan nasional. Tetapi ketika negara hanya menjadi instrumen untuk memperkaya jaringan tertentu, maka pembangunan berubah menjadi mekanisme ekstraksi.

Pada akhirnya, pertanyaan utama bukanlah apakah suatu negara memiliki elit yang kuat. Semua negara memilikinya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah elit tersebut bekerja untuk memperkuat negara atau justru menggunakan negara untuk memperkuat dirinya sendiri? Di titik itulah batas antara kepemimpinan strategis dan elite capture menjadi sangat jelas. Negara maju biasanya berhasil karena elitnya menciptakan institusi yang semakin kuat dari generasi ke generasi. Sebaliknya, negara yang terjebak dalam elite capture cenderung memiliki institusi yang semakin lemah, sementara kekayaan dan kekuasaan semakin terkonsentrasi pada lingkaran yang semakin sempit.